Home » » Pernikahan dalam Alkitab

Pernikahan dalam Alkitab

Matius 19:5
“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan
ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga
KEDUANYA itu menjadi satu daging.”---
================================
Mari kita perhatikan secara khusus kata “keduanya” dalam ayat di
atas
Institusi pernikahan sudah ada dalam benak Tuhan sebelum
manusia jatuh ke dalam dosa. Institusi pernikahan adalah kudus,
diberkati oleh Tuhan. Institusi pernikahan adalah antara PRIA dan
WANITA, bukan antarsesama jenis kelamin. Institusi pernikahan
berbicara tentang suami dan isteri. Esensi pernikahan adalah relasi
antara suami dan isteri, bukan antara suami dengan anak-anak dan
atau antara isteri dengan anak-anak.
Dalam hidup sehari-hari, pada kenyataannya, sering terjadi
pergeseran fokus, dari berfokus ke hubungan antara suami-isteri
menjadi ke anak-anak atau keluarga besar. Ini bukanlah gagasan
Tuhan. Ini terjadi karena kelemahan atau kegagalan suami dan isteri
atau ketidaktaatan salah satu atau keduanya.
Ketika anak-anak dan atau keluarga besar mulai menempati posisi
teratas dalam suatu pernikahan, pernikahan itu akan mulai
digerogoti. Hanya menunggu waktu, hubungan emosional suami
dan isteri akan perlahan namun pasti, menjadi dingin, lebih dingin,
dan lebih dingin lagi. Sampai akhirnya, ketika anak-anak makin
bertambah besar dan makin kurang membutuhkan ayah-ibu
mereka, keduanya (suami-isteri) mulai merasa asing satu dengan
lainnya, dan akhirnya benar-benar asing satu sama lain.
Mengapa itu terjadi?
Karena, anak-anak, atau keluarga besar, tidak pernah dimaksudkan
oleh Tuhan menjadi fokus utama sebuah institusi pernikahan.
Esensi pernikahan adalah relasi dan ikatan suami-isteri. Keduanya
seharusnya menjadi sebuah kesatuan yang saling melengkapi
dengan peran masing-masing dalam melakukan segala sesuatu,
termasuk hal menjadi orangtua bagi anak-anak.
Sekali lagi, esensi pernikahan adalah relasi dan kesatuan antara
suami dengan isteri.
“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan
ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga
KEDUANYA itu menjadi satu daging.”---
Matius 19:5
================================
Sebenarnya, selain anak-anak dan keluarga besar, ada banyak
kandidat yang bisa menggantikan fokus suami-isteri dalam sebuah
institusi perkawinan. Beberapa yang paling populer adalah karir,
kesibukan, pertemanan, hobi, dll. Isteri yang bekerja sibuk dengan
pekerjaannya; isteri yang tidak bekerja sibuk dengan pekerjaan-
pekerjaan rumahtangga yang tak ada habis-habisnya; suami sibuk
mengejar karirnya atau uang atau dengan pertemanannya, dll.
Ketika fokus suami-isteri bergeser ke hal-hal tsb, maka hubungan
emosional suami-isteri pun menjadi makin dingin, lebih dingin, dan
akhirnya benar-benar dingin. Masing-masing menjadi asing satu
dengan lainnya. Masing-masing makin tidak mengenal
pasangannya.
Mengapa hal tsb bisa terjadi?
Karena, itu bukanlah desain Tuhan mengenai pernikahan. Itu
bukanlah maksud Tuhan ketika menciptakan pernikahan antara
seorang laki-laki dan seorang wanita. Dan, semua yang di luar
maksud Tuhan hanyalah akan membawa perasaan dikecewakan,
kemarahan, kebingungan, frustrasi, rasa apatis, dsb.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu.”---
Ulangan 6:5
======================================
Dasar kasih suami terhadap isteri dan isteri terhadap suami
haruslah kasih masing-masing kepada Tuhan. Dan, dasar kasih
kepada Tuhan adalah kasih Tuhan sendiri kepada masing-masing.
Yesus telah mati bagi suami, demikian juga bagi isteri.
Tuhan sudah menerima suami apa adanya, demikian juga telah
menerima isteri apa adanya. Tanpa kasih kepada Tuhan, seorang
suami tidak akan mengasihi isterinya tanpa syarat, demikian juga
seorang isteri terhadap suaminya. Tanpa kasih kepada Tuhan,
masing-masing akan mengasihi dengan berharap imbalan dari
pasangannya.
Tanpa kasih kepada Tuhan, suami maupun isteri akan berhenti
mengasihi pasangannya manakala pasangannya berhenti
mengasihinya atau tidak mempedulikannya.
Kasih kepada Tuhan, itulah yang membuat seorang suami atau
isteri menerima pasangannya apa adanya. Kasih kepada Tuhan,
itulah yang membuat seorang suami atau isteri sanggup bertahan,
meskipun segala sesuatu tampak tidak berubah, bahkan semakin
buruk, semakin suram dalam rumah tangganya, pasangannya
makin tidak mempedulikannya dan menghargainya.
Kasih kepada Tuhan, itulah yang membuat seorang suami atau
isteri tidak cepat-cepat pergi ke pengadilan agama untuk
melayangkan gugatan cerai (kecuali karena pasangannya berzinah)
terhadap pasangannya.
Jika ikatan pernikahan didasarkan pada kasih asmara atau romance,
ikatan itu akan segera melonggar seiring keadaan pasangan yang
semakin tidak menarik secara fisik, dsb. Pernikahan haruslah
didasarkan pada kasih kepada Tuhan yang sudah terlebih dahulu
mengasih masing-masing.
“Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi
suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas
tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.”---
1 Korintus 7:4
================================
Inilah salah satu implikasi yang indah dan suci mengenai kesatuan
antara suami dan isteri. Dengan mengingat Yesus telah menerima
masing-masing apa adanya, Tuhan menyerahkan suami ke dalam
penguasaan isterinya, dan isterinya kepada penguasaan suaminya.
Inilah makna kata berkuasa yang paling indah yang pernah ada di
muka bumi ini. Suami menguasai isteri dan isteri menguasai suami
bukanlah untuk ego masing-masing, melainkan untuk kesatuan
mereka.
Itu sebabnya, sangat tidak normal dalam pandangan Tuhan, jika
seorang isteri atau suami menolak ajakan untuk berhubungan intim
dari pasangannya. Sebab, masing-masing telah diserahkan
olehTuhan kepada satu sama lain untuk kesatuan, untuk keindahan,
untuk bersenang-senang, untuk kemuliaan Tuhan. Tidak ada lagi
alasan untuk menolak ajakan hubungan intim dari suami atau isteri,
kecuali karena sakit, menstruasi, kecapekan, dan lain-lain. Tetapi, inti
dan prinsipnya adalah suami atau isteri ada dalam kekuasaan
pasangannya oleh kehendak Tuhan dan desain Tuhan mengenai
pernikahan.
“Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi
suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas
tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.”---
1 Korintus 7:4
================================
Ayat di atas bisa saja disalahgunakan oleh masing-masing untuk
kepentingan atau kepuasan sendiri. Yang BUKAN maksud ayat di
atas adalah seorang suami berhak memaksa isterinya, atau
sebaliknya, kapan saja untuk melayani hasrat seksuilnya. Ayat di
atas haruslah dilihat dalam terang ayat-ayat lain dalam Alkitab, yang
sudah jelas maksudnya. Misalnya, dalam terang
Filipi 2:4,
“dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan
kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
Jadi, baik suami maupun isteri, haruslah melihat ayat di atas sebagai
ketentuan Tuhan yang berbicara tentang hak pasangannya atas
dirinya. Jadi, ayat di atas haruslah dilihat sebagai KEWAJIBAN pribadi
di hadapan Tuhan terhadap pasangannya, bukan sebagai hak
pribadi yang harus dipenuhi pasangannya. Tetapi, kewajiban yang
dilakukan dengan sukacita, karena sadar itu adalah kehendak Tuhan
bagi dirinya. Sekali lagi, kasih kepada Tuhanlah yang membuat itu
menjadi sebuah sukacita.
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”--- Ulangan 5:7
================================
Tuhan haruslah diakui sebagai Tuhan dalam segala aspek
kehidupan.
Jika Tuhan tidak diizinkan menjadi Tuhan dalam salah satu saja
aspek kehidupan, maka sesuatu yang lain pasti otomatis
mengambil posisi tsb. Sebab, kita didesain oleh Tuhan dengan
sebuah naluri untuk menyembah. Naluri ini dimaksudkan Tuhan
agar kita bisa atau mampu menyembah-Nya. Hewan tidak diberi
naluri ini, itu sebabnya hewan tidak menyembah Tuhan.
Ketika sesuatu yang lain yang bukan Tuhan menjadi ‘Tuhan’ atas
salah satu aspek hidup kita, maka ‘Tuhan’ itu pun akan
memerintah hidup kita. Sebab, kita tidak bisa menyembah sekaligus
Tuhan dan sesuatu yang lain.
Hal yang sama juga berlaku untuk hidup pernikahan. Ketika Tuhan
tidak diizinkan memerintah sebagai Tuhan atas pernikahan tsb,
sesuatu yang lain otomatis akan memerintah perkawinan tsb.
Ketika sesuatu menjadi begitu penting (diberhalakan) sehingga
menjadi lebih utama dari Tuhan sendiri, maka hal tsb otomatis akan
memerintah keduanya (suami-isteri) atau salah satu dari antara
mereka. Apa saja mengenai hal tsb akan menentukan keputusan Si
Suami dan atau Si Isteri. Juga, akan menentukan atau mewarnai
sikap dan kelakuan mereka.
Bahkan, dalam kasus yang sangat parah, hal tsb menjadi lebih
penting dari ikatan pernikahan mereka. Keduanya atau salah satu
mulai menganggap pernikahan mereka itu kurang atau tidak
berharga. Jika keduanya yang bersikap seperti itu, mungkin
situasinya sama-sama malang bagi keduanya. Tetapi, jika salah
satu, suami atau isteri, yang bersikap demikian, maka sikapnya itu
akan sangat menghancurkan hati pasangannya.
Apa saja bisa menjadi berhala dalam sebuah rumah tangga:
rumah, pekerjaan, kesenangan, hobi, uang, perhiasan, kekuasaan,
popularitas, ego/harga diri, seks, gaya hidup, dsb. Kutuk Tuhan ada
pada pernikahan yang memberhalakan sesuatu.
Berhala yang bernama KEKASIH GELAP
Zaman ini ditandai dengan fenomena memiliki kekasih gelap.
Bahkan, beberapa tahun yang lalu, digubah lagu-lagu yang bertema
kekasih gelap dan menduduki tangga teratas lagu-lagu populer di
radio-radio Nasional. Sebagian lagu itu ada yang ingin menegur,
tetapi sebagian lagi seolah mengajar pendengarnya untuk
menganggap hal itu biasa, bahkan mungkin secara halus
menganjurkan. Intinya, memiliki kekasih gelap itu sekarang ini,
sepertinya mulai dilihat sebagai sebuah fenomena biasa. (Mudah-
mudahan saya hanya salah menyimpulkan; saya berharap saya
salah menyimpulkan hal tsb)
Rasa bersalah karena memiliki kekasih gelap, sekarang ini,
tampaknya mulai memudar. Parasuami memiliki kekasih gelap,
demikian juga paraisteri.
Memiliki kekasih gelap, maksudnya, bukan saja sepasang laki-laki
dan perempuan yang bukan suami-isteri berpacaran (atau lebih
dari sekedar berpacaran). Berpacaran atau berkasih-kasihan
layaknya sepasang kekasih lewat facebook, atau media sosial
lainnya juga, juga termasuk memiliki kekasih gelap.
Salah satu penghancur ikatan emosi dan relasi suami-isteri hari ini
adalah memiliki kekasih gelap. Ketika seorang suami atau isteri
memiliki kekasih gelap, maka rumah tangganya memasuki bahaya
yang sangat besar. Jelas, cinta suami atau isteri kepada
pasangannya akan memudar. Ikatan emosional di antara mereka
juga makin pudar.
Seorang suami atau isteri yang memiliki kekasih gelap, cepat atau
lambat, akan kurang menghargai pasangannya. Dia makin tidak
memperhatikan lagi suami atau isterinya, bahkan makin tidak
peduli. Jika keduanya sama-sama memiliki kekasih gelap, mungkin
rasa disakiti atau dikhianati itu ‘ringan’. Tetapi, jika hanya salah
satu, suami atau isteri, yang memiliki kekasih gelap, rasa disakiti dan
dikhianati itu akan sangat besar dan menyiksa.
Memiliki kekasih gelap adalah salah satu berhala besar rumah
tangga masa kini. Ketika berhala ini dipelihara, Tuhan akan sangat
murka kepada pelakunya. Jika tidak ada pertobatan dari pelakunya,
hukuman Tuhan pasti sudah menanti. Buanglah berhala-berhala,
yang hanya mendatangkan murka Tuhan pada rumah tangga kita.
Biarkanlah keluarga kita hanya menyembah Tuhan.
BERHALA yang bernama PRIVACY
Apakah setelah menikah, seorang suami atau isteri masih memiliki
privacy terhadap pasangannya? Mari kita lihat pikiran dan maksud
Tuhan melalui ayat di bawah ini:
Kejadian 2:25: “Mereka keduanya TELANJANG, manusia dan
isterinya itu, tetapi mereka TIDAK MERASAMALU.”
Jelas, setelah menikah, seharusnyalah seorang suami atau isteri
tidak lagi memiliki privacy terhadap pasangannya. Tidak ada lagi
yang perlu disembunyikan dari satu sama lain. Masing-masing
tidak perlu lagi malu satu dengan lainnya mengenai segala
kekurangan: fisik, karakter, kepribadian, masa lalu, ketakutan,
kekhawatiran, harapan, dsb. Demikian juga mengenai hal-hal yang
ingin diberikan kepada saudara-saudarinya, besar pendapatannya,
dsb. (Namun, membukakan hal-hal yang sensitif (seperti rahasia
masa lalu yang memalukan, dll) memang memerlukan hikmat dan
kesabaran untuk menunggu waktu yang pas di mana pasangan
telah siap mendengar-mengetahuinya.)
Prinsipnya, Alkitab mengajar suami dan isteri untuk tidak memiliki
privacy apa pun terhadap pasangannya.
Tetapi, salah satu berhala zaman modern iniadalah PRIVACY.
Berhala ini sangat kuat mendorong-menarik orang-orang
(termasuk anak-anak Tuhan) untuk mengikutinya. Orang akan
semakin mencintai dirinya, demikianlah nubuat dalam Alkitab. Diri
dan privacy adalah berhala zaman modern ini. Jika kita tidak
membaca dan mengerti maksud-pikiran Tuhan sebagaimana yang
disampaikan dalam ayat di atas, kita pun bisa ikut menyembah
berhala privacy ini.
Berhala privacy ini telah menceraikan banyak suami-isteri secara
emosional. Suami atau isteri, entah sadar atau tidak, telah
menjauhkan pasangannya dari dirinya secara emosional. Privacy
menjadi lebih penting dari suami atau isterinya.
Berhala yang bernama SUAMI
Seorang isteri, entah disadarinya atau tidak, bisa jatuh dalam
memberhalakan suaminya. Dia menjadikan suaminya sebagai
pengganti Tuhan. Di mulut, mungkin dia masih berkata bahwa dia
percaya dan/atau menyembah Tuhan. Bahkan, mungkin dia masih
meyakinkan dirinya bahwa dia percaya kepada Tuhan. Tetapi dari
sikap dan kelakuannya, sesungguhnya dia sudah menjadikan
suaminya sebagai Tuhan.
Beberapa hal utama yang seharusnya kepada Tuhan seorang isteri
menaruh harapannya adalah
1. masa depan
2. rasa aman
3. jaminan kebutuhan hidup sehari-hari
dll
Tuhan tidak pernah mendelegasikan ketuhananan-Nya kepada apa
dan siapa pun, termasuk kepada seorang suami. Jaminan masa
depan, rasa aman, dan kebutuhan hidup sehari-hari adalah dari
Tuhan.
Tuhanlah seharusnya yang menjadi sumber rasa aman seorang
isteri bukan suaminya. Demikian juga, kepada Tuhanlah seharusnya
seorang isteri menaruh harapannya akan masa depan dan
kebutuhan hidup sehari-hari, bukan suaminya. Dengan demikian
dia akan melihat sendiri Tuhan bekerja memenuhinya dengan
memberkati usaha/pekerjaan suaminya maupun melalui cara-cara
Tuhan yang lain sesuai dengan kemahakuasaan-Nya.
Ketika seorang isteri menaruh harapannya akan hal-hal tsb kepada
suaminya, dia akan mengalami kekecewaan demi kekecewaan
seumur hidupnya. Pasti. Dia tidak akan pernah mengalami
kebahagiaan yang sejati dalam hidupnya. Dia akan terus
bersungut-sungut, tidak tahu mengucap syukur. Sebab suaminya
selamanya tidak akan pernah menggantikan Tuhan.
Berhala yang bernama ISTERI
Seorang suami juga dapat jatuh ke dalam sikap dan perilaku
memberhalakan isterinya. Seorang suami, disadari atau tidak
disadarinya, sedang memberhalakan isterinya ketika dia marah-
marah atau marah berlebihan karena isterinya
-tidak memasak makanan kesukaannya
-tidak menyediakan sambal
-tidak bisa memaklumi rumah yang centang-perenang karena
isteri belum sempat merapikannya karena sibuk mengurus bayi
-lupa menelopon Si Anu
-dsb
Dia memberhalakan isterinya karena dia berharap isterinya
sempurna seperti Tuhan. Dia tidak bisa menerima kekurangan-
kelemahan isterinya. Dia berharap (entah sadar atau tidak) isterinya
bisa seperti Tuhan.
Jika Sudah Membaca di KLIK yaa :
Anda sedang membaca Artikel tentang Pernikahan dalam Alkitab, dan anda bisa menemukan artikel Pernikahan dalam Alkitab ini dengan url http://echaonal.blogspot.com/2013/04/pernikahan-dalam-alkitab.html. jika Anda menyukai Artikel di blog ini, silahkan masukkan email Anda dibawah ini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel baru.

Post a Comment

 
Copyright © 2013. ECHAONAL - All Rights Reserved
Template by ECHAONAL | Proudly powered by Blogger