Home » » Renungan Lubang paku

Renungan Lubang paku

ADA seorang anak dengan
perilaku pemarah. Ayahnya
memberikan sekantong paku
dan mengatakan kepadanya
bahwa setiap kali dia
kehilangan kesabarannya,
untuk memakukan sebuah
paku di pagar kayu di
belakang rumah. Hari
pertama anak itu telah
menancapkan 37 paku ke
pagar. Kemudian secara
bertahap menyusut turun.
Si anak mendapati bahwa
lebih mudah menahan
amarahnya daripada untuk
menancapkan paku ke pagar
tersebut.
Akhirnya hari itu datang
ketika anak itu tidak lagi
kehilangan-kesabarannya.
Dia bercerita kepada
ayahnya tentang hal itu dan
ayahnya menyarankan agar
sekarang ia mengeluarkan
kembali satu paku setiap
hari tanda ia mampu
menahan amarahnya.
Hampir setiap hari ia
berhasil mencabut paku-
paku tersebut, akan tetapi
kadang-kadang ada juga
hari ia harus menancapkan
paku lagi, karena marah.
Hari-hari berlalu dan anak
itu akhirnya bisa
memberitahu ayahnya
bahwa semua paku sudah
habis terambil. Sang ayah
mengajak dan menuntun
tangan ke pagar, dan
berkata, "Nak, lihatlah.
Kamu telah melakukannya
dengan baik. Tapi lihatlah
lubang-lubang yang ada di
pagar. Pagar tidak akan
pernah sama dengan
sebelumnya. Sudah ada
lubang-
lubang.
Ketika
kamu
mengatakan sesuatu dengan
kemarahan, maka ia
meninggalkan bekas. Tidak
jadi soal berapa kali kamu
mengatakan saya minta
maaf, luka masih tetap ada
disana”.
Kata firman Tuhan:
“Perhatikanlah ini baik-
baik, Saudara-saudara yang
tercinta! Setiap orang harus
cepat untuk mendengar,
tetapi lambat untuk
berbicara dan lambat untuk
marah” (1). Hal ini mutlak
penting bagi orang Kristen
dan hamba Tuhan. Karena
kemarahan yang tidak
terkendali akan
meninggalkan bekas, yang
tidak dapat kita hapuskan.
Hati terluka tidak pernah
pergi begitu saja! Waktu
tidak akan membawa
kesembuhan lengkap kepada
mereka. Setiap kali kita
mengingat pengalaman
tersebut, luka hati kita
terasa kembali perih.
Sementara kita berupaya
membendung ingatan kita
dan mencoba
melupakannya, namun ia
masih ada disana.
Tetapi kita dapat minta
pertolongan Tuhan untuk
menyembuhkan kita,
melalui penderitaan Yesus
dan dengan kuasa Roh
Kudus,karena “Ia
menyembuhkan orang-
orang yang patah hati dan
membalut luka-
luka ......”(2). Kita minta
bantuan Roh Kudus,
mengisi hati kita dengan
kasih dan kuasa-Nya
sehingga dapat melihat
ingatan tersebut melalui
kasih Allah dan dari
perspektif kebenaran-Nya.
Jika Sudah Membaca di KLIK yaa :
Anda sedang membaca Artikel tentang Renungan Lubang paku, dan anda bisa menemukan artikel Renungan Lubang paku ini dengan url http://echaonal.blogspot.com/2013/03/renungan-lubang-paku.html. jika Anda menyukai Artikel di blog ini, silahkan masukkan email Anda dibawah ini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel baru.

Post a Comment

 
Copyright © 2013. ECHAONAL - All Rights Reserved
Template by ECHAONAL | Proudly powered by Blogger